Profesor Andi Agustang Orasi di AKBID Bina Sehat Bone

Prof Dr. Andi Agustang, M.Si (tengah) diapit Rektor Unhas, Prof.Dr.Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA (kanan) dan Rektor UNM, Prof.Dr.Arismunandar, M.Pd pada acara akademik di kampus UNM beberapa waktu lalu.
Prof Dr. Andi Agustang, M.Si (tengah) diapit Rektor Unhas, Prof.Dr.Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA (kanan) dan Rektor UNM, Prof.Dr.Arismunandar, M.Pd pada acara akademik di kampus UNM beberapa waktu lalu.

Makassar (rakyatbersatu.com) – Profesor pertama dari alumni SMA Negeri Mare Bone,  Prof.Andi Agustang, M.Si direncanakan Sabtu 12 September 2015, membawakan orasi ilmiah dalam wisuda digelar Akbid Bina Sehat di Kota Watampone.

      Pria kelahiran Bone membacakan orasi ilmiah berjudul Sumber Daya Kesehatan Berkarakter Sebagai Pilar Utama Pembangunan Kesehatan.

      Selama ini Ketua Prodi S3 Sosiologi PPs-UNM sibuk dan padat memenuhi undangan membawakan orasi ilmiah pada beberapa kampus negeri dan swasta, belum lagi diundang menjadi penguji tamu di Universitas Teknologi Melaka.

      Orasi ilmiah dibawakan pada kampus  Akademi Hiperkes Makassar, Akper dan Akbid Makassar, di Clarion Hotel 8 September 2015. Sebelumnya juga pernah membawakan materi pada kuliah perdana mahasiswa baru di kampus STIKES Mega Rezky Makassar, Stikes Nani Hasauddin Makassar. Malah direncakan minggu depan akan membawakan kuliah umum di kampus Universitas Al Asyariah Polman Mandar.

     Ditemui di Bone, Jumat sore 11 September 2015, Agustang mengatakan, dalam orasi ilmiah yang akan dibacakan itu akan menyoroti,  skala nasional IPM Sulawesi Selatan berada pada peringkat ke 19,  dari 33 provinsi, dengan nilai 71,62. IPM tertinggi adalah Provinsi DKI Jakarta dengan nilai 77,60 dan terendah adalah Provinsi Papua dengan nilai 64,94. Sementara dalam skala provinsi, IPM tertinggi adalah Kabupaten Wajo 72,55 dan terendah adalah Kabupaten Jeneponto dengan nilai 66,22, sedangkan Kabupaten Bone berada pada urutan ke 10 dengan nilai 72,08, ungkap staf ahli Biro Bina Napza dan HIV AIDS Pemprov Sulsel.

       Angka-angka tersebut memberikan informasi bahwa untuk meningkatkan kualitas pembangunan manusia dibutuhkan pembangunan sektor ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Pembangunan kesehatan sebagai bagian integral dari Pembangunan Nasional pada hakekatnya adalah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, tegas doktor sosiologi antropologi PPs Universitas Padjajaran Bandung ini.

          Kondisi sosial budaya pada tiap daerah turut memberi konstribusi penyebab masalah kesehatan ibu, masih banyak daerah menggunakan dukun sebagai penolong persalinan, khususnya di desa-desa. Berdasarkan data Riskesdas 2013, Penolong saat persalinan dengan kualifikasi tertinggi dilakukan oleh bidan (68,6%), kemudian oleh dokter (18,5%), lalu non tenaga kesehatan (11,8%). Namun sebanyak 0,8% kelahiran dilakukan tanpa ada penolong, dan hanya 0,3% kelahiran saja yang ditolong oleh perawat, tegas Agustang.

         Hal ini ditunjang pula dengan kondisi sosial ekonomi sebagian masyarakat yang masih berada digaris kemiskinan. “Selain itu, tidak meratanya fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia turut menjadi salah satu penyebab masalah kesehatan ibu,” katanya.(yaya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *