Rakyat Mesir Bereaksi Atas Hukuman Mati 683 Orang

mesirMinya – Lima bulan silam, Abu Bakr Ismail, 30 tahun, seorang ahli farmasi dan ayah dua orang bocah, ditahan pihak keamanan di tempat kerjanya, selanjutnya dijebloskan ke dalam penjara. Aksi ini mengejutkan keluarganya karena Ismail adalah seorang muslim taat. “Saudaraku pria tak bersalah,” kata Amr Ismail, 29 tahun. “Dia dibui lantaran berjenggot dan hafal Al-Quran.”

Abu Bkr Ismail adalah salah satu dari 683 orang yang dijatuhi hukuman mati di Pengadilan Minya, Senin, 28 April 2014, dengan tuduhan terlibat kekerasan pada 14 Agustus 2013 di kantor kepolisian Edwa di Minya, 245 kilometer selatan Kairo.

Seluruh terhukum, termasuk tokoh Al-Ikhwan Al-Muslimun, Mohamed Badie, dituduh oleh hakim menjadi anggota organisasi terlarang, Al-Ikhwan dan pendukung Presiden Mesir tersingkir, Muhamad Mursi.

Serangan terhadap kantor kepolisian 14 Agustus 2013, berlangsung setelah pasukan keamanan menyerbu kamp unjuk rasa pendukung Mursi di Kairo seteah Mursi dipaksa turun jabatan oleh militer pada 3 Juli 2013.

Namun demikian, sebelum hukuman tersebut dilaksanakan, aparat penegak hukum Mesir harus meminta fatwa dari Mufti Agung al-Azhar, Shawki Allam. Mufti ini bisa saja menolak atau menerima keputusan pengadilan. Tetapi banyak pihak menyakini bahwa hal ini hanyalah formalitas.

Pada Senin, 28 April 2014, petang waktu setempat, Jaksa Agung Mesir, Hesham Barakat, mengatakan bahwa para terhukum bisa saja menyampaikan banding, tetapi pernyataan tersebut tak digubris anggota keluarga terhukum.

Nahed Muhamad, istri Ezzat Muhamad, 44 tahun, mengatakan dia tidak habis pikir mengapa suaminya ditahan saat sedang salat di masjid di Minya. Semenjak suaminya dijatuhi hukuman, dia mengaku bersama empat anaknya terus berdoa agar suaminya dibebaskan. “Apa yang bisa saya lakukan, hakim sudah memutuskan (hukuman mati),” ucapnya.(Al Jazeera/Tempo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *