Slank Buktikan Nggak Ada Matinya

Slank Band
Slank Band

KETIKA melansir album perdana bertajuk “Suit..Suit.. He..He..(Gadis Seksi) akhir tahun 1990, Slank  sempat diprediksi wartawan musik ibukota tak bakal bertahan lama. Band Rock’n Roll Blues yang terbentuk di Jakarta, 26 Desember 1993 dan  saat itu didukung formasi –  Bimbim (drum), Bongky (bas), Pay (gitar), Kaka (vokal) dan Indra (keyboard)  ini paling banyak hanya mampu melansir tiga album rekaman.

“Walau kami sempat nyolot atau emosi, dibalik prediksi  sang wartawan tersebut banyak hikmahnya bagi kelanggengan Slank. Kami terus kreatif dan produktif dalam bermusik hingga kini dan mampu melansir album ke-20 bertajuk Slank Nggak Ada Matinya (SNAM),” papar Kaka membuka mini konser khusus untuk wartawan dan tamu undangan termasuk Dahlan Iskan dan Mahfud MD menandai peluncuran album SNAM di Teater Salihara – Pasar Minggu Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Kaka didampingi formasi solid terkini  – Bimbim (drum),  Ridho (gitar), Ivan (bas), dan Abdee (gitar) menambahkan Slank bisa bertahan dan terus kreatif memasuki usia ke-30 juga tak terlepas dari motto yang terus dijunjung tinggi – Selama Republik ini masih berdiri, Slank nggak bakal mati.  “Cobaan paling berat selama tiga dekade berkiprah musik adalah kebosanan. Untungnya, keinginan kuat  berbicara sesuatu  kekinian seputar bangsa, sosial dan lingkungan tetap membuat kami kreatif walau RI sudah lima kali ganti presiden,” tandasnya.

Sementara Dahlan Iskan – Menteri Negara BUMN ketika diminta komentarnya menyatakan,   Kaka – Bimbim dkk. langgeng di blantika musik nasional karena Slank  ber­karakter. “Orang yang ber­ka­karakter tidak ada matinya. Tapi, para pecundang, bunglon, pencari angin, akan gampang mati,”  ujarnya yang kontan disambut tepuk tangan ratusan hadirin.

Album SNAM  yang diedarkan Music Factory /KFC  bermaterikan 11 lagu.  Diantaranya nomor bertajuk  “Woles”, “Ngindonesia” dan “System?” yang liriknya bernuansa sindiran mengenai wajah politik di Indonesia saat ini. Sementara itu, lagu “Yo Man”, “Jgn Ke Jkt”, “Verboden” dan “He Yo Les Go” berbicara seputar kritik sosial terhadap keseharian masyarakat. * (ata)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *