Sosialisasi Minim, BRT Mamminasata Sepi Penumpang

 

 

Halte BRT kurang dimanfaatkan penumpang.
Halte BRT kurang dimanfaatkan penumpang.

Slogan “Ayo Naik Bus” nampaknya masih belum melekat dihati para masyarakat. Dan dampaknya fasilitas kendaraan umum ini lebih di kenal dengan  Bus Rapid Transit (BRT) Mamminasata,  masih sepi peminat dari masyarakat umum.

Menurut Rachmat Sadarang,  salah seorang  supir BRT Mamminasata koridor 3,  saat ini ada 30 unit Bus Mamminasata  di operasikan di kota Makassar dan ini merupakan program pintar pemerintah kota.

Menurutnya, menjadi  sopir dari BRT  ini, sebelumnya menjalani  pelatihan  selama 1 bulan. Integritas dan loyalitas serta disiplin harus menjadi modal awal untuk para sopir bus ini. Sebab, para sopir selalu diawasi   pengawas utusan Dinas Perhubungan Kota Makassar.

Diakui Rahmadt, masyarakat daerah Pallangga hingga perbatasan Makassar-Gowa masih sangat minim  menggunakan bus dari program pemerintah ini. “Padahal, naik BRT ini boleh dikatakan praktis, murah dan aman. Fasilitas yang ada dalam BRT ini adalah fasilitas  high quality, dimana terdapat AC   membuat penumpang merasa nyaman dan tidak kepanasan,termasuk pengguna kursi roda,” sebutnya.

. Lain halnya untuk masyarakat daerah Makassar hingga Maros memiliki rasa antusias terhadap BRT ini dan dapat kita lihat dari banyaknya penumpang yang menggunakan fasilitas kendaraan umum ini.

Bisa dikatakan bahwa saat ini masih kurang sosialisasi pemerintah kepada masyarakat umum tentang nyaman dan amannya untuk selalu menggunakan BRT.  “Saat ini memang BRT masih dalam tahap perkenalan kepada masyarakat sehingga masih dimaklumi jika antusias masyarakat masih kurang untuk naik BRT,” kata Rachmat.

Selama BRT ini resmi dioprasikan di kota Makassar, banyak hal yang menjadi problema dari pihak BRT . Salahsatunya  tidak patuhnya calon penumpang menunggu bus tidak pada halte,  sehingga membahayakan sopir dan pengguna jalan lainnya.” Kesadaran masyarakat sanga dibutuhkan, apalagi BRT  ini tidak punya jalur sendiri sehingga masih menggunakan jalur umum dan sering mendapat kemacetan, ungkap Rachmad.

Saat ini yang kami tahu masih ada 3 koridor, untuk koridor 3 ini memiliki rute dari Bandara Baru – Sudiang – Daya – Pettarani – Mall Panakkukang – Alauddin – Sungguminasa – Pallangga. Ongkos   harus  disiapkan  masih sangat terjangkau dari Rp.5ooo  hingga  Rp.8000  untuk sekali jalan.

Suci Amalia (16) salah seorang penumpang ditemui mengatakan,  sangat merasa nyaman dan beda sekali dengan waktu dulu ia menggunakan angkutan umum (pete-pete) dari rumah sekolah. Lalu perlu alasan bagaimana lagi untuk tidak naik BRT? Bukankah ini hal yang menyenangkan dan terjangkau, katanya.  (rachmat syam)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *