Struktural dan Kultural Penyebab Ketimpangan Sosial

Prof.Dr.Andi Agustang, M.Si
Prof.Dr.Andi Agustang, M.Si

Ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia disebabkan faktor struktural dan kultural,  mewarnai kehidupan ekonomi elite dan kehidupan ekonomi golongan masyarakat bawah. Demikian orasi ilmih berjudul, Transformasi Sosio-Kultural Masyarakat Indonesia ke Arah Kepentingan Pembangunan, dibawakan Ketua Prodi S3 Sosiologi PPs-UNM, Prof.Dr. Andi Agustang, M.Si, pada wisuda STIE-STKIP Yapti Jeneponto, Rabu, 8 Januari 2013.

Dijelaskan, faktor kultural diibaratkan sebagai  tenaga listrik,  dengan indikator, tidak berorientasi ke depan,  tidak ada growth philosophy karena tidak suka menabung untuk peningkatan investasi, kurang ulet dan cepat menyerah,  suka berpaling ke akhirat dan tidak menganggap penting dunia yang sedang dijalaninya
dan kurang respon terhadap permintaan.

Lemahnya aspek kultural ini,  disebabkan pengaruh ajaran fatalistik (paham Jabariah: Imam Al-Gazali). Ajaran ini, dalam penetrasinya ke masyarakat, berbaur dengan ajaran Hindu dan Budha yang telah terdidik keluhuran budi pekerti pada masyarakat. Pembauran itu kemudian melahirkan sikap keluhuran budi (ketinggian perasaan), selanjutnya disinyalir sebagai penyebab lemahnya nilai kerja pada masyarakat Indonesia.

Bekasnya dalam masyarakat Bugis Makassar misalnya “Manre Te Manre yang penting mangkumpulu” atau dalam bahasa Makassar “Nganre tan Ngan’re yang penting As’serre” demikian pula di Jawa dikenal  falsafah “mangan ora mangan watan kumpul”.

Faktor struktural diibaratkan sebagai “jaringan listrik”, yakni berupa lemahnya akses ekonomi bagi golongan masyarakat bawah terhadap unsure kemajuan seperti: modal, teknologi, manajemen pemasaran, informasi dan sebagainya. Di Indonesia, tenaga listrik yang dihasilkan adalah lemah dan jaringan listrikpun terputus-putus,
akibatnya sering terjadi hubungan pendek. Kondisi seperti ini saya sebut dengan istilah “mobil kurang tenaga”, sehingga sulit untuk bisa menanjak. Sebaliknya pada ekonomi elite menampilkan wujud lain, yakni  “kuda lepas
kandang”. Kuda lepas kandanglah manabrak segala yang merintangi jalannya.

Demikian pula perangi ekonomi elite banyak melanggar norma, baik norma masyarakat, agama maupun peraturan/perundangan negara. Sifat kuda lepas kandang pada ekonomi elite disinyalir Koentjaraningrat, disebutnya mentalitas  suka menerabas, yaitu semangat mumpung untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara apapun.  (ym/rbc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *