Sulsel Harus Memiliki Industri dan SDM Handal Sesuai Tuntutan MEA

Dari Dialog ‘Sulsel Economic Outlook Pasca Pilpres’

Kedua dari kiri: Erwin Aksa, Syahrul Yasin Limpo, Iman Sugena dan Suhaidi, dalam dialog 'Sulsel Economic Outluck Pasca Pilpres' yang berlangsung di Hotel Clarion, Makassar, Rabu, 17/9/2014. (foto; UKA)
Kedua dari kiri: Erwin Aksa, Syahrul Yasin Limpo, Iman Sugena dan Suhaidi, dalam dialog ‘Sulsel Economic Outluck Pasca Pilpres’ yang berlangsung di Hotel Clarion, Makassar, Rabu, 17/9/2014. (foto; UKA)

Makassar.-  Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulselbar,  menggelar dialog ekonomi bertajuk Economic Outlook Pasca Pilpres di Grand Clarion Hotel, Rabu (17/9/2014). Hadir beberapa pembicara di antaranya Gubernur Sulsel; Syahrul Yasin Limpo, Ekonom Megawati Insitute; Iman Sugema, CEO Bosowa Grup; Erwin Aksa dan Kepala Kantor Perwakilan BI Wilayah I; Sulampua, Suhaedi.

“Kami memilih tema `Economic Outlook` Pasca Pilpres untuk menggambarkan potensi Sulsel kepada pemerintahan yang baru agar menjadi perhatian dalam pengambilan kebijakan terkait Sulsel khususnya dan wilayah KTI umumnya,” kata Direktur Utama Bank Sulselbar Muh. Rahmat dalam kata pembukaannya.

Dalam forum ini, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo memaparkan strategi yang dilakukan oleh Pemprov Sulsel untuk menjaga perekonomian Sulsel tetap kondusif sebelum dan setelah Pilpres berlangsung. “Perekonomian Sulsel tetap baik tanpa gejolak berarti, karena kami menjamin semua kebutuhan sembako utama masyarakat Sulsel terpenuhi selama 5 bulan, 2 bulan sebelum dan 3 bulan setelah Pilpres. Semua kami jamin terpenuhi, mulai dari obat nyamuk hingga minyak goreng,” kata Syahrul yang banyak mengulas kelebihan yang dimiliki Sulsel sebagai pusat perekonomian KTI dalam rangka menyambut era ‘Masyarakat Ekonomi Asean 2015’ (MEA).

Hal tersebut menurutnya menjadi indikator bahwa ekonomi Sulsel sama sekali tidak mendapat dampak signifikan dalam perputaran bisnisnya. “Bisa dicek, Sulsel tumbuh saat Pilpres kemarin. Momentum politik justru membawa energi yang positif,” ujarnya.

Kepala Kantor Bank Indonesia Wilayah I Sulampua Suhaedi mengatakan bahwa keyakinan masyarakat dan pelaku ekonomi terhadap prospek ekonomi Sulawesi Selatan tetap tinggi. “Ada optimisme yang tinggi melihat ekonomi Sulsel ke depan, dan ini bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja tetapi berkat sinergi yang baik antara pemerintah dan dunia usaha,” kata Suhaedi.

Dia mengingatkan, meskipun pertumbuhan ekonomi Sulsel saat ini masih tinggi namun pertumbuhan ini perlu dijaga agar dapat berkelanjutan. “Ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk itu, antara lain melanjutkan pembangunan infrastruktur yang kini tengah berjalan, menjamin ketersediaan energi, dan melakukan hilirisasi industri,” katanya menyarankan.

Ekonom dari ‘Megawati Insitute’; Iman Sugema, memberikan pujian kepada Sulsel atas pencapaian pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Meskipun demikian, dia mengingatkan, masih banyak hal yang perlu menjadi perhatian Pemda Sulsel jika ingin tetap bertahan sebagai pusat ekonomi KTI, yakni; melengkapi dan menambah terus pembangunan infrastruktur sesuai tuntutan yang diinginkan oleh pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

“Misalnya, jika Anda ingin menjadi pusat perdagangan minyak kelapa, maka di daerah ini harus ada perkebunan kelapa sawit dan industri pengolahannya. Kalau mau menjadi pusat perdagangan perikanan, Sulsel harus menyediakan sumber daya manusia nelayan yang terlatih, dan menyediakan peralatannya, seperti kapal penangkap ikan yang bertonase besar, dan menyediakan industrinya.  Di era sekarang ini, tidak bisa lagi kita merasa hebat karena memiliki potensi yang besar, akan tetapi kita harus berusaha menyiapkan industri untuk mengolah potensi tersebut. Gunanya, produksi potensi tersebut bernilai tinggi,” kata anggota tim ekonomi Jokowi-JK tersebut.

“Intinya, sebuah negara atau daerah jika ingin maju, maka syarat yang paling penting untuk dipenuhi ialah ketersediaan industri dan SDM yang handal,” katanya sambil menjelaskan bahwa kehadiran pada acara dialog sebagai pribadi, bukan hadir sebagai tim ekonomi Jokowi-JK. “Jika Sulsel tidak mampu menyediakan industri dan SDM yang handal, maka produksi barang dan jasa di Sulsel – bahkan Indonesia – akan tergusur oleh produksi barang dan jasa yang datang dari berbagai negara Asean. Sebab di era MEA yang dimulai tahun depan, membolehkan semua negara dalam ASEAN, bebas menjual dan membeli barang dan jasa di negara-negara yang terdapat di ASEAN,” katanya.

Khusus mengenai potensi Sulsel sebagai daerah produsen semen, menurut CEO Bosowa; Erwin Aksa, dengan produksi dua pabrik semen di Sulsel, yakni; Semen Tonasa dan Semen Bosowa sebesar 11,5 juta ton semen per tahun, kedua pabrik semen ini masih memiliki potensi untuk memproduksi semen di atas 20 juta ton semen, sekaligus menjadi produsen semen terbesar di Indonesia. (uka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *