Syarkawi Rauf: Banyak yang lain, bukan hanya Kartel Daging Sapi

Ketua KPPU Syarkawi Rauf didampingi Wakil Ketua R. Kurnia Sya'rani dan Kepala Kantor KPPU Makassar Ramli Simanjuntak, dalam pertemuan dengan Forum Jurnalis KPPU di Makassar, Jum'at kemarin, 14/8/2015.
Ketua KPPU Syarkawi Rauf didampingi Wakil Ketua R. Kurnia Sya’rani dan Kepala Kantor KPPU Makassar Ramli Simanjuntak, dalam pertemuan dengan Forum Jurnalis KPPU di Makassar, Jum’at kemarin, 14/8/2015.

Makassaar (rakyatbersatu) – Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) periode Juli 2015 s/d Desember 2017; Muhammad Syarkawi Rauf, yang baru saja terpilih secara aklamasi Juli lalu tidak mau berlama-lama “menikmati” jabatan barunya. Ia langsung tancap gas melaksanakan tugas melanjutkan kegiatan kerja KPPU yang diprogramkan dan direncanakan.

Kerja awal yang dilakukan alumnus Fakultas Ekonomi tahun 1999 Universitas Hasanuddin, ini mengunjungi beberapa daerah. Kunjungannya di Makassar pekan ini, selain untuk memperkenalkan diri sebagai ketua KPPU yang baru, Syarkawi juga melakukan sidak ke pasar, khususnya  di titik penjualan daging sapi. Tujuannya, mencari kartel yang memainkan harga.

Jum’at, 14/8, pagi kemarin Syarkawi sengaja mengundang sejumlah wartawan berbagai media untuk bertemu di Kantor KPPU Makassar di lantai 8 Menara Bosowa, Jl. Jenderal Sudirman. Tanpa mengenalkan dirinya lebih dekat kepada wartawan, Syarkawi yang tetap mengajar di almamaternya, langsung membuka pembicaraan mengenai penggrebegan yang baru-baru ini dilakukan KPPU di Rumah Pemotongan Hewan (RPH), Tanggerang. “Daging sapi yang dikatakan langka, ternyata tidak. Di sana kami menemukan 40 ekor sapi siap potong. Di lokasi lainnya kami juga menemukan lagi 21 ekor sapi siap potong,” kata Syarkawi. “Penemuan kami itu membuktikan bahwa daging sapi tidak langka, tetapi ada pihak yang menimbunnya,”

Kelangkaan daging sapi yang terjadi belakangan ini di Pulau Jawa, terutama di Jakarta, Bandung, Bogor, dan daerah Jawa Barat lainnya, menyebabkan harga daging sapi tiba-tiba naik mencapai Rp130.000/kg. Padahal sebelumnya hanya berkisar Rp70-80.000/kg. “Ternyata kelangkaan daging sapi itu bukan karena sapi tidak ada, tetapi sapi-sapi itu sengaja tidak dipotong semua,. Sengaja disimpan supaya daging sapi di pasaran jadi langka. Namun karena permintaan konsumen terus datang, ya pasti harganya jadi naik. Masyarakat terpaksa beli karena dibutuhkan dan di mana-mana harganya naik. Nah, situasi seperti ini terjadi disebabkan praktik kartel,” urai Syarkawi.

“Di Makassar dan sekitarnya kita juga akan lakukan sidak di tempat pemotongan hewan. Kita mau tahu bagaimana kondisi daging sapi dan penjualannya di sini,” kata kata R. Kurnia Sya’rani, Wakil Ketua KPPU, yang juga hadir dalam pertemuan ini.

Menurutnya, dewasa ini makin banyak produk usaha yang bermasalah, baik dalam hal pemasarannya maupun harganya. Antara lain; ayam potong, jagung, bawang merah, kedelai, pekerjaan proyek yang ditenderkan dan sebagainya. “Semua ini sedang diinvestigasi oleh KPPU karena dicurigai ada persoalan yang bisa mengakibatkan munculnya persaingan tidak sehat yang pada akhirnya merugikan masyarakat luas,” kata wanita Komisioner KKPU, ini.

“Jadi bukan hanya praktik kartel daging sapi. Masih banyak yang lain, termasuk tender proyek pengadaan alat kesehatan (alkes) di hampir seluruh provinsi sehingga menimbulkan kerugian negara yang tidak sedikit. Ini sedang diselidiki oleh beliau,” kata Syarkawi sambil menunjuk ke Ramli Simanjuntak, Kepala Kantor KPPU Makassar.

Dijelaskan, sejauh ini KPPU dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya membantu pemerintah dengan mengungkapkan praktik-praktik pekerjaan yang melanggar hukum melalui investigasi yang dilakukan KPPU sesuai dengan tugas dan wewenangnya sesuai amanat UU No. 5 Tahun 1999.

“Agar tugas dan wewenang tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, KPPU memang memerlukan adanya arah pandang yang jelas, sehingga apa yang menjadi tujuannya dapat dirumuskan dan direncanakan dengan seksama sehingga pencapaian hasilnya  dapat diketahui dan dilaporkan dengan tepat dan terinci,” kata Syarkawi yang juga terdaftar sebagai  Chief Economist Bank Negara Indonesia (BNI), Makassar.  

KPPU sebagai lembaga independen pada akhirnya harus mencapai visi, yakni; “Terwujud Ekonomi Nasional yang Efisien dan Berkeadilan untuk Kesejahteraan Rakyat,” jelasnya.

“Untuk mewujudkan visi tersebut di atas, maka KPPU menjalankan misinya, dengan melakukan berbagai kegiatan yang bersifat Pencegahan dan Penindakan, Internalisasi Nilai-nilai Persaingan Usaha dan Penguatan Kelembagaan,” kata peraih gelar Doktor Ekonomi di Universitas Indonesia pada 2008 dengan disertasi berjudul; ‘International Risk Sharing dan Integrasi Keuangan: Studi Empiris di Negara ASEAN5, ini.

Independensi KPPU dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, lanjut Syarkawi, dapat dilihat dari apa yang menjadi visi KKPU. “Karena itu, produk-produk yang kami pantau bukan hanya produk industri akan tetapi juga produk-produk pemerintah berupa kebijakan yang berakibat bisa merugikan masyarakat.”

Misalnya; dihapuskannya penjualan tiket murah pesawat oleh kebijakan yang dikeluarkan menteri perhubungan. Kebijakan tersebut mengharuskan harga tiket pesawat terendah hanya bisa pada 40% dari harga tiket tertinggi. “Nah memang harga tiket pesawat sudah tinggi, jadi meskipun dipotong sampai 40% dari harganya, tetap saja masih tinggi. Jadi kebijakan ini yang salah. Ini harus diluruskan,” kata aktifis UNSFIR – UNDP (United Nation Support Facility for Indonesia Recovery) tahun 2005 – 2006 sebagai Junior Advisor di bidang kebijakan industri, ini.

Pada akhir pertemuan, Syarkawi berharap, terbangun sinergitas yang positif antara Forum Jurnalis dengan KPPU di Makassar demi menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik lagi demi kemajuan Indonesia. Sebaliknya, para wartawan mengaku puas dengan penjelasan yang dikemukakan Syarkawi.

“KPPU memang butuh orang cerdas seperti Syarkawi,” kata Imad, jurnalis dari salahsatu media online. “Pak Syarkawi masih muda, enerjik dan punya integritas. Cara-cara anak muda Makassar ini menarik,” jelas Nila, penggagas diskusi bersama forum jurnalis dengan KPPU, Jum’at lalu, itu. (uka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *