Tantowi Yahya Koki Revisi UU Musik

Tantowi Yahya
Tantowi Yahya

DITENGAH seabrek kesibukannya sebagai Politisi dan Anggota DPR-RI sekaligus Ketua Umum PAPPRI dan Yayasan AMI – Tantowi Yahya (53 th 4 bln), masih meluangkan waktu untuk menggodok revisi UU Hak Cipta – khususnya bidang musik. Pemicunya, kendati Hari Musik Nasional yang diperingati setiap tanggal 9 Maret  sesuai kelahiran komposer WR Supratman dan telah diakui pemerintah lewat Kepres No. 10 tertanggal 9 Maret 2013, namun penegakan  hukum terkait hak cipta serta implikasinya terhadap kesejahteraan dan kemajuan musik dan musisi Indonesia – maih jauh dari harapan.

“Selain aparat pemerintahan  saat ini yang  masih kurang maksimal dalam menegakkan hukum hingga kasus pembajakan karya musik kian marak, UU  Hak Cipta No. 19 tahun 2002 juga sudah ketinggalan jaman. Karenanya, sesibuk apa pun di dunia politik –  sebagai insan musik  saya  wajib meluangkan waktu untuk menjadi Koki dalam merevisi UU Hak Cipta terutama di bidang permusikan,” papar Tantowi Yahya  kepada RB.Com  di Rolling Stone Café –  kawasan Kemang, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Ditemui selepas jumpa pers peringatan Hari Musik Nasional bekerjasama dengan Kementrian Parekraf  dan  dirayakan secara nasional serta  merakyat di  34 Anjungan Daerah di TMII – Jakarta Timur, Minggu (9/3),  pria flamboyan kelahiran Palembang, 29 Oktober 1960 menambahkan, sebagai insan musik sekaligus Ketua Umum PAPPRI dan Yayasan AMI –  pihaknya selalu mengingatkan pemerintah yang berkuasa saat ini untuk lebih serius memberantas pembajakan. “Namun, himbauan tinggal himbauan, lemahnya penegakan hukum pembajakan hak cipta khususnya di bidang karya musik tetap saja marak. Dalam kaitan itu, revisi UU Hak Cipta yang sejalan dengan  era  musik digital setelah  diajukan dan disetujui DPR akan kami serahkan pada Pemerintah RI yang baru nanti,” tandas Tantowi seraya menjelaskan revisi UU Hak Cipta di bidang musik juga mengatur dengan tegas peran lembaga Collecting Society.

 Tantowi-Yahya-diapit-pengurus-DPP-PAPPRI.

Tantowi-Yahya-diapit-pengurus-DPP-PAPPRI.

“Upaya PAPPRI untuk lebih mensejahterakan para pencipta lagu dan komposer juga terhambat karena banyak bermunculan lembaga Collecting Society baru selain KCI seperti Royalti Musik Indoneseia (RMI), Royalti Anugrah Indonesia (RAI – PAMMI). Akibatnya, pihak User atau pengguna lagu dan musik Indonesia – terutama pihak stasiun televisi, saat ini bingung harus membayar royalty kepada pihak pengkolek royalty yang mana,”  jelasnya.

              Penghargaan Tokoh Musik

Sebagai bentuk apresiasi kepada  insan musik Indonesia, dalam rangka Hari Musik Nasional – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Pangestu, menyerahkan tujuh penghargaan pada tokoh-tokoh musik.Mereka adalah  Chrismansyah Rahadi (Chrisye) sebagai penyanyi, alm Djauhar ZaharsjahF achrudin Roesli (Harry Roesli) sebagai komponis, alm Nano Suratno (Nano S) sebagai pencipta lagu, Addie Muljadi Sumaatmadja (Addie MS) sebagai musisi, Pono Banoe sebagai pendidik musik, Frans Sartono sebagai pemerhati musik, dan Eros Djarot sebagai produser musik.   ’’Orang kreatif musik telah menunjukan sumbangan besar di bidang kebudayaan sejak era perjuangan kemerdekaan. Kita harus memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada anak bangsa ini,’’ kata Mari Pangestu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (9/3). (naskah dan foto – ata)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *