Tertarik BUMD, Bupati Sigi Belajar ke Bantaeng

Bupati Sigi  Ir H Aswadin Randalemba
Bupati Sigi Ir H Aswadin Randalemba

Bantaeng(RakyatBersatu) Ingin membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Bupati Sigi Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Ir H Aswadin Randalemba M,Si belajar ke Kabupaten Bantaeng.

Selain belajar BUMD, Bupati Aswadin yang membawa Asisten II Drs Frederiksen K Djiloi, Kabag Perekonomian dan sejumlah pejabat lainnya juga bermaksud berguru tentang cara memperoleh dana provinsi, pusat dan luar negeri seperti yang sudah dilakukan Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah dalam membangun daerahnya.

‘’Kami sadar, bahwa untuk membangun daerah tentu tidak cukup jika hanya mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Karena itulah, kami butuh trik yang dilakukan Bupati Bantaeng,’’ ujarnya di rumah jabatan Bupati Bantaeng, Selasa (25/3).

Sebagai kabupaten yang baru (pecahan dari Kabupaten Donggala), Kabupaten Sigi yang memiliki penduduk 256 ribu jiwa tersebar pada 15 kecamatan dan 176 desa, masih membutuhkan banyak bantuan.

Penduduk tersebut memiliki pekerjaan 85 persen petani, sisanya mengembangkan usaha kecil serta pariwisata. ‘’Karena itu, tidak salah bila kami belajar ke Bantaeng,’’ ujarnya.

Menyinggung soal potensi alam, Bupati Kabupaten Sigi mengatakan, daerah yang efektif beroperasi Mei 2009 ini memiliki luas wilayah 5 ribu kilometer persegi. Dari jumlah terebut 75 persen kawasan hutan, termasuk kawasan hutan konservasi dan taman nasional.

Dengan kondisi tersebut, masih banyak wilayah yang sulit dijangkau.  ‘’Kami memiliki wilayah yang hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor. Itupun masih harus menghabiskan waktu 2 hari,’’ ujar Bupati Sigi.

Akibat sulitnya transportasi tersebut, kebutuhan masyarakat menjadi mahal. Harga-harga kebutuhan bisa mencapai 10 kali lipat dibanding harga kebutuhan di kota, urainya.

Karena itu, penyediaan infrastruktur menjadi pekerjaan berat yang dihadapi Pemda. Karena itulah, kami datang untuk belajar dan salah satu yang sudah mendapat peretujuan DPRD adalah soal BUMD, tambahnya.

Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah pada kesempatan tersebut menguraikan sejarah kabupaten yang pada zaman keresidenan Belanda, Bantaeng memimpin wilayah bagian selatan Sulsel seperti Jepenonto, Bulukumba, Sinjai dan Selayar.

Kabupaten terkecil di Sulsel ini memiliki penduduk 180 ribu jiwa, 74 persen diantaranya bergerak di sektor pertanian. Bantaeng juga sejak dulu dikenal sebagai daerah penghasil sayuran.

Kini Pemda berupaya memberi nilai tambah melalui proses teknologi. Tidak heran bila dataran rendah kini menjadi penghasil benih yang merupakan hasil penangkaran sendiri.

Hal tersebut sekaligus menyiasati keterbatasan lahan, sedang pada dataran tinggi ditambahkan dengan tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti strawberry dan appel.

Dan pada kawasan pesisir ditanam rumput laut. Pemda juga membangun sejumlah kawasan wisata pantai seperti pantai Marina di pesisir, kawasan agrowisata di pegunungan dan permandian alam ere merasa.

Khusus produksi benih yang sudah dihasilkan hingga kini mencapai 25 varietas. Untuk pengembangan pembangunan kota, dilakukan revitalisasi pantai seluas 5 ha yang kini sudah berdiri rumah sakit berlantai delapan serta anjungan yang menjadi alun-alun kota.

Pembangunan sejumlah fasilitas tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemda, Pemerintah Provinsi, Pusat, terutama di kawasan wisata terpadu Pantai Marina.

Di bidang kesehatan, juga berhasil menekan angka kematian ibu dan anak hingga nol persen melalui inovasi Brigade Siaga Bencana (BSB). Fasilitas ini mendapat bantuan Jepang dalam bentuk penyediaan ambulance dan pemadam kebakaran.(hms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *