Uma Tobing Tertantang Be-Melayu-Ria

Uma Tolbing
Uma Tolbing

SEBAGAI jawara ajang Indonesia Mencari Bakat (IMB) TransTV tahun 2011, kepiawaian olah-vokal dan aksi panggung Uma Tobing (20 th) dalam ujian berat. Pasalnya, wanita kelahiran Jakarta,  29 November  1993 ini, didapuk Geisz Chalifah, produser Gita Cinta Production (GCP) menjadi salah satu penampil alam pergelaran budaya Jakarta Melayu Festival  (JMF) 2014 yang digelar di Theater Jakarta TIM, 22 Agustus mendatang.

“Walau berlatar belakang penyanyi pop, saya sangat tertantang untuk mampu ber-Melayu-ria dengan baik. Apalagi,hal tersebut sejalan dengan upaya dan perjuangan saya menjadi penyanyi profesional yang serba-bisa,” papar Uma Tobing kepada RB.Com  di Jakarta, baru-baru ini.

Ditemui selepas jumpa pers JMF yang bakal dimeriahkan sederet penyanyi dan musisi kondang mulai dari Fadly (Padi), Novi Ayla (KDI), Rafly Kande, Darmansyah Ismail, Niken Astri (KDI), Duo Shahab, Amigos Band serta musisi ternama Hendri Lamiri (Biola), Buthonk (Accordion), dibawah arahan Music Director Anwar Fauzi Orchestra, Uma menambahkan, untuk bisa eksis dan berkibar di panggung hiburan nasional disaat industri musik nasional yang masih lesu darah, mengharuskan dirinya untuk berkemampuan serba-bisa.

“Kalau hanya mengandalkan latar belakang kepiawaian bernyanyi pop, hampir dipastikan karir nyanyi saya dipastikan sulit berkembang. Apalagi, upaya keras saya door to door ke perusahaan rekaman untuk menewarkan demo lagu, untuk singgel atau album pop, belum berhasil. Siapa tahu dengan unjuk kepiawaian ber-Melayu-ria ada produser yang berminat membuatkan album perdana sekaligus mengorbitkan saya,” papar Uma – jebolan SMA 1 Medan yang di pentas JMF nanti bakal membawakan empat lagu. Yakni Yale Yale, Risalah Hati, Kaulah Laksana Bulan dan Dialah Dihatiku milik Siti Nurhalizah.

  Dampak Globalisasi

Panpel dan beberapa Pengisi Acara JMF 2014
Panpel dan beberapa Pengisi Acara JMF 2014

 Sementara Geisz Chalifah – produser GCP mengatakan  pihaknya  miris dengan dampak negatif globalosasi, yang menggerus budaya dan seni bangsa Indonesia. Termasuk dampak musik pop yang menurutnya mengalahkan musik asli Indonesia. “Lewat pergelaran budaya JMF, diharapkan kita mampu menjaga tradisi musik Melayu  yang diselaraskan dengan semangat zamannya,”  harapnya.

Ditambahkan Anis Baswedan, kegiatan festial musik Melayu sepatutnya mendapat dukungan dari banyak pihak. “Sudah saatnya, kita bahu-membahu agar cepat atau lambat agar  musik Melayu ke level global. Bahkan, secera bertahap diikhtiarkan menjadi trend musik dunia,” tandas Anis menuutup pembicaraan.* (naskah dan foto – ata)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *