Universitas Daeng Patompo Segera Hadir di Makassar

 Ketua Yayasan Pembangunan Indonesia, Andi Chaeruddin Patompo (kanan) bersama dengan Kordinator Kopertis IX Sulawesi Prof.Dr.Ir. Andi Niartiningsih MP (kedua dari kanan) pada wisuda STKIP PI di Hotel Clarion 28 Desember 2015.  (ist)

Ketua Yayasan Pembangunan Indonesia, Andi Chaeruddin Patompo (kanan) bersama dengan Kordinator Kopertis IX Sulawesi Prof.Dr.Ir. Andi Niartiningsih MP (kedua dari kanan) pada wisuda STKIP PI di Hotel Clarion 28 Desember 2015. (ist)

Makassar (rakyatbresatu.com) – Tiga perguruan tinggi, yakni STKIP Pembangunan Indonesia, STIE Pembangunan Indonesia dan IST Pembangunan Indonesia, kini dalam proses peralihan status. Ketiga kampus itu bakal dilebur menjadi Universitas Daeng Patompo. Universitas itu sudah sekian lama diimpikan pendirinya almarhum Daeng Patompo, dan ini sekaligus amanah dari mantan walikota Makassar ketika belum wafat.

Demikian dikemukakan Andi Chaeruddin Patomp, SE, Ketua Yayasan Pembangunan Indonesia Makassar yang membina ketiga kampus itu pada  wisuda sarjana ke XX STKIP Pembangunan Indonesia di Hotel Clarion Makassar, Senin 28 Desember 2015 yang juga dihadiri Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, Prod Dr Ir Hj Andi Niartiningsih, MP, Wakil Walikota Makassar,  Syamsul Rijal, Pembina Yayasan,  Andi Azisah Patompo, para orang tua wisudawan dan wisudawati. Wisuda ke XX,  ditandai  orasi ilmiah yang dibawakan oleh Prof Dr Ir  Yusmina Hala (Guru Besar UNM).

Dijelaskan Chaeruddin Patompo, ketiga kampus itu membina 7 prodi sehingga pihak kampus akan menambah tiga prodi baru yakni; S1 Pendidikan Matematika, S1 Pendidikan Sosiologi serta S1 Pendidikan Bahasa Inggeris. Ketiga prodi itu telah disiapkan sumber daya dosen serta sarana dan prasarananya.

Penambahan prodi dan pembangunan kampus II di sekitar Jl. Hertasing Baru Makassar diharapkan rampung akhir tahun 2016., sehingga awal 2017, impian menghadirkan Universitas Daeng Patompo bakal segera hadir.        

Andi Haeruddin,  mengatakan  tantangan dihadapi didalam pengelolaan pendidikan tinggi semakin berat, apalagi memasuki MEA 2016. “Tantangan itu  tidak lagi terbatas dalam negeri,  tetapi pada tingkat global khususnya  ASEAN. Jika kita tidak siap maka  bisa menjadi penonton di negeri sendiri, ” tandasnya.

Ketua STKIP-PI Makassar, Dr H. Yunus M.Pd, melaporkan bahwa wisuda ke XX STKIP-PI tahun akademik 2015/2016 sebanyak  349 orang. Wisuda ini menunjukkan kalau STKIP-PI Makassar dalam kategori eksis dan sehat.  Keberhasilan dicapai ini kerena adanya kerjasama yang baik antara pengelola dengan penyelenggara pendidikan. Disamping itu adanya support luar biasa dari pihak yayasan dan adanya koordinasi dan pembinaan yang terus menerus dari Kopertis Wilayah IX Sulawesi.

Banyak kemajuan dicapai kampus,  telah memenuhi rasio dosen dengan mahasiswa. Jumlah mahasiswa terdaftar di PDPT mencapai kurang lebih 3000-an orang, dengan dosen kurang lebih 100 orang,  ditambah dengan delapan dosen Kopertis. Semuanya berkualifikasi magister. Dosen lanjut doktoral sebanyak 14 orang, tersebar disejumlah perguruan tinggi, ada UGM, Brawijaya, Unhas, dan terbanyak di UNM. Alumni  tersebar disejumlah wilayah di Indonesia, ada jadi  PNS, Swasta, anggota DPRD, kepala desa, dan khusus di Manggarai beberapa alumni jadi kepala sekolah menengah atas.

Wisuda kali ini mengukuhkan  enam wisudawan terbaik, yakni tiga orang dari Prodi Biologi, yakni  Zulkipli Haedar (IPK 3,90),  Yohana Sardi (3,86), dan Filarius Hardi (IPK 3,86). Sementara untuk Prodi Ekonomi,  Margareta Sri Ayu (3,86),  Maria Heny (3,85), serta  Rati Kumalasari Abduh  IPK 3,83).

Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, Prof Dr Ir Hj Andi Niartiningsih, MP, mengatakan  tenaga guru maupun tenaga kependidikan masih sangat dibutuhkan. Data Juni 2015 kebutuhan guru di Indonesia masih sekitar  492 ribu lebih. Tertinggi  Jawa Barat sekitar 99 ribu, Jawa Tengah 59 ribu, Jawa Timur  52 ribu dan termasuk Sulsel masih membutuhkan puluhan ribu guru.

“Sayangnya calon guru yang berhasil kita cetak enggan ditempatkan di wilayah pelosok tanah air yang saat ini masih sangat membutuhkan tenaga pendidik,”ujar Niartiningsih, seraya menambahkan tenaga guru yang paling dibutuhkan saat ini adalah, guru  kelas, guru yang bisa mengajarkan muatan local, guru bimbingan konseling, dan guru penjaskes.

Guru besar Fakultas Kelautan dan Perikanan Unhas ini, juga menekankan mutu pendidikan.  Menurutnya mutu pendidikan itu bisa dicapai dimulai dari melaksanakan proses pendidikan yang benar.  “Perguruan tinggi bisa bertahan, jika bisa mempertahankan mutunya,” tegasnya. (yaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *