Warga Sudan Bentrok dengan Warga Afganistan di Makassar

Warga imigran yang luka-luka dirawat di rumah sakit. (ist)
Warga imigran yang luka-luka dirawat di rumah sakit. (ist)

MAKASSAR, RBC – Sekelompok warga imigran asal Sudan dan Afghanistan terlibat bentrok di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sulawesi Selatan. sesaat lalu, Rabu malam 9 September. Menurut saksi mata, bentrokan ini terjadi sekitar pukul 22.00 wita di sebuah warung makan tidak dari Wisma Bugis, Tamalanrea, tempat para imigran itu ditampung.

Sedikitnya tujuh warga Sudan terluka dan dilarikan ke Rumah Sakit Daya guna mendapatkan perawatan. Ketujuh orang itu mengalami luka di tangan, kepala, kaki, dan bahu. Sebaliknya lawannya, imigran Afghanistan terdapat enam orang mengalami luka-luka dilarikan ke RS Awal Bross, Jalan Urip Sumoharjo. Kedua pihak yang bertikai ini sama-sama berkulit hitam, dan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari.

Para korban menderita luka-luka di bagian tubuh mereka. Ada terluka di lengannya, di bahu, di wajah, punggung dan pinggang. Melihat luka-luka itu, sepertinya para korban terkena sabetan senjata tajam sejenis parang.

Perawatan kedua kelompok sengaja dipisahkan untuk menghindari terjadinya pertikaian lanjutan karena ada yang dendam atau ingin membalas. Selain itu, lima warga Afghanistan dibawa ke Polsekta Tamalanrea dimintai keterangan.

Kapolsek Tamalanrea Kompol Ahmad Yulias menjelaskan, pihaknya baru menahan beberapa orang dari kedua belah pihak untuk dimintai keterangannya agar diketahui apa motif sehingga terjadi bentrokan. “Jadi maaf kita belum tahu apa penyebab utamanya sehingga bentrokan. Kami masih sedang mengorek keterangan beberapa orang saksi yang mungkin tahu persis sebab musabab terjadinya perkelahian ini,” kata Kapolsek.

Perkelahian dua kelompok imigran beda negara itu, baru pertama kali terjadi sejak Kota Makassar menjadi salah satu yang ditunjuk oleh pemerintah menjadi daerah penampung imigran beberapa tahun lalu. Selain Sudan dan Afganistan, ada juga imigran yang berasal dari Rohingya, Kamboja, jumlahnya lebih 300 orang.

Masyarakat Kota Makassar mengharapkan pihak kepolisian menangani kejadian ini dengan sebaik-baiknya dan berusaha agar kedua kelompok bisa berdamai. Sedangkan yang terbukti melanggar hukum, baik sebagai pelaku langsung maupun sebagai provokator, sebaiknya dihukum sesuai peraturan yang berlaku.

“Polisi tidak boleh menganggap enteng kejadian ini. Kalau tidak ditangani dengan serius, tidak menutup kemungkinan para imigran itu berasumsi bahwa polisi Indonesia khususnya di Makassar, kurang tegas menegakkan aturan, sehingga mereka merasa tidak takut untuk berbuat obar,” kata seorang warga Tamalanrea.

“Biasanya orang-orang berkulit hitam itu memang suka bikin ribut dan berkelahi. Jadi harus ditindak tegas,” tambahnya mengingatkan petugas. (uka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *