Zohra A. Baso, Pejuang Pasar Sentral Makassar Itu Telah Tiada

Pasar Sentral Makassar (uka)
Pasar Sentral Makassar (uka)

Makassar, RBC – Pagi itu, suatu hari dalam tahun 1991, rapat redaksi harian Fajar memutuskan; terbitan besok, kasus Pasar Sentral akan dijadikan headline halaman 1. Saya ditugasi menuliskan berita ini. Saya cepat-cepat menuju Pasar Sentral, karena ada info, sebanyak 1.000 lebih pedagang Pasar Sentral akan berunjukrasa menentang rencana pembangunan pasar tradisional ini menjadi Mall.

Perusahaan yang akan membangun pasar ini adalah PT Melati Tunggal Inti Raya (MTIR) yang ditunjuk langsung oleh Rudini (waktu itu Mendagri). Dan, Rudini sudah memerintahkan Gubernur Sulsel kala itu dijabat Ahmad Amiruddin dan Walikota Ujungpandang Suwahyo harus menyukseskan rencana ini.

Sampai di pasar, Saya bertemu dengan wartawan Majalah Tempo Syahrir Makkuradde (alm) dan Wartawan Suara Pembaruan Zohra A. Baso (telah berpulang ke rahmatullah pada, Minggu Minggu,15 Maret 2015  pukul 22.22 wita). 

Almarhumah Zahra A. Baso (ist)
Almarhumah Zahra A. Baso (ist)

Zohra punya ide. “Sebelum para pedagang unjukrasa, lebih baik kita kumpulkan dulu mereka. Kita beri mereka pemahaman, agar unjukrasa mereka berhasil sehingga Pasar Sentral tidak jadi dibangun,” katanya.
“Ok, Saya cari tempat dulu,” kataku.

Pendek kata, Saya dapat pinjaman tempat di sebuah SD di Jl. Sunu. Lalu, Saya umumkan kepada para pedagang agar jam dua siang kumpul di SD itu untuk mendengarkan pengarahan sebelum unjukrasa. Para pedagang setuju. Syahrir Makkuradde lalu menghubungi Pak Burhamzah, dosen ekonomi Unhas yang juga dikenal sangat menentang pembangunan Pasar Sentral untuk mencerahkan para pedagang.

Sebelum waktu pertemuan, Saya bersama Syahrir menemui HM Jusuf Kalla yang waktu itu menjabat Ketua Kadinda Sulsel. Kami minta pendapatnya mengenai rencana ini. Pak JK senang kami beritahu rencana ini. Pak JK yang sekarang sudah 2 kali Wapres, waktu itu tidak setuju Pasar Sentral dibangun karena dia sudah tahu bahwa para pedagang akan tergusur manakala pembangunan pasar itu sudah rampung.

Sekitar pukul dua, pertemuan jadi dilaksanakan. Burhamzah memberikan ceramah tentang ekonomi rakyat, tentang ketidakadilan yang akan melanda para pedagang tradisional pasar sentral, apabila pasar itu akan dijadikan mall. “Jadi kebijakan pemerintah pusat ini harus dilawan jika kalian semua tidak susah nantinya,” kata Burhamzah yang disambut teriakan dan tepuk tangan ratusan pedagang yang hadir.

“Jangan takut saudara-saudara, ini ada tiga wartawan, yang satunya wanita, namanya Zohra Baso, akan berjuang untuk Anda semua,” kata Burhamzah yang juga dikenal sebagai akademisi pejuang yang idealis.
“Hidup Ibu Zohra, hidup wartawan,” teriak para pedagang.

Tapi tiba-tiba muncul beberapa anggota polisi, dan memerintahkan agar pertemuan ini dibubarkan. Alasannya, tidak ada izin dari kepolisian. Bukan itu saja, Kami bertiga, Zohra, Syahrir dan Saya, diminta ikut ke kantor polisi. Kami bertiga dituduh menjadi provokator menghasut rakyat untuk melawan pemerintah.

“Siapa yang pimpin pertemuan ini,” tanya penyidik.
“Saya, Saya yang pimpin,” tiba-tiba Zohra yang menjawab.

Malam itu, Saya dan Syahrir terpaksa menginap di ruang tahanan Polsek 02 di bilangan Jl. Sunu. Zohra diizinkan pulang jamu satu malam karena tidak ada ruang sel wanita.

Itulah sekelumit cerita tentang Zohra A. Baso, seorang wartawati pejuang yang tidak pernah surut memperjuangkan kebenaran hingga akhir hayatnya dalam usia 63 tahun. Dan, kisah tentang proses pembangunan Pasar Sentral menjadi Makassar Mall yang sudah memasuki tahun 2015 ini, masih bermasalah.

Kupikir-pikir, sebenarnya berbagai masalah yang muncul di negeri kita ini, justru penyebabnya bukan berawal dari rakyat, melainkan  dari pemerintah sendiri. (uka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *